Beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at)

Beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) - Featured Image

Pernahkah kamu mendengar orang membaca Al Quran dengan sedikit nada atau logat yang berbeda? Mungkin kamu berpikir itu hanya kesalahan atau pelafalan yang kurang tepat. Tapi, tahukah kamu, beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) itu ternyata bukan sekadar variasi biasa, melainkan bagian dari kekayaan khazanah ilmu Islam yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW? Artikel ini akan mengupas tuntas tentang qira'at, sejarahnya, macam-macamnya, dan mengapa kita perlu mengetahuinya. (Temukan fakta menarik tentang qira'at Al Quran! Pelajari sejarah, jenis, dan alasan adanya perbedaan dalam cara membacanya. Yuk, simak selengkapnya di sini!)

Sebenarnya, perbedaan dalam membaca Al Quran ini nggak muncul begitu saja. Ada riwayat dan sanad yang jelas dari para sahabat Nabi Muhammad SAW, tabiin, hingga sampai kepada kita sekarang. Kita akan mencoba menyelami lebih dalam asal muasal perbedaan ini, bagaimana perbedaan tersebut bisa terjadi, dan apa saja implikasinya bagi pemahaman kita terhadap Al Quran. Jangan khawatir, kita akan bahas ini dengan bahasa yang santai dan mudah dicerna kok!

Tujuan kita membahas beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) adalah untuk menambah wawasan keislaman kita, menghargai keragaman interpretasi dalam Islam, dan yang paling penting, meningkatkan kecintaan kita terhadap Al Quran. Dengan memahami qira'at, kita bisa lebih apresiatif terhadap upaya para ulama terdahulu dalam menjaga keotentikan Al Quran dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Jadi, siapkan dirimu untuk perjalanan seru menelusuri dunia qira'at Al Quran!

Mengenal Qira'at: Lebih dari Sekadar Cara Membaca

Mengenal Qira'at: Lebih dari Sekadar Cara Membaca

Apa Itu Qira'at?

Qira'at secara bahasa artinya cara membaca. Dalam konteks Al Quran, qira'at merujuk pada beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) yang bersumber dari Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabiin, dan tabi'ut tabiin. Perbedaan ini bisa mencakup tahqiq (membaca dengan tartil dan jelas), tadarruj (membaca dengan tempo sedang), dan hadar (membaca dengan tempo cepat). Selain itu, perbedaan juga bisa terjadi pada makhraj huruf (tempat keluarnya huruf), sifat huruf (karakteristik huruf), mad (panjang pendek bacaan), waqaf (tempat berhenti), dan ibtida' (tempat memulai bacaan).

Tapi, perlu diingat ya, nggak semua perbedaan cara membaca itu bisa disebut qira'at. Qira'at yang muktabar (diakui) harus memenuhi beberapa syarat ketat, antara lain:

Sanadnya mutawatir: Artinya, riwayatnya harus sampai kepada Rasulullah SAW melalui rantai periwayatan yang tak terputus dan diriwayatkan oleh sejumlah besar orang di setiap generasi. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab: Qira'at tersebut harus sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab yang fushah (fasih). Sesuai dengan Rasm Utsmani : Tulisan Al Quran yang digunakan harus sesuai dengan Rasm Utsmani , yaitu cara penulisan Al Quran yang disepakati pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Sejarah Singkat Munculnya Qira'at

Latar belakang munculnya beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) berawal dari masa Rasulullah SAW. Ketika Al Quran diturunkan, Rasulullah SAW mengajarkannya kepada para sahabat. Setiap sahabat memiliki hafalan (ingatan) dan pemahaman yang berbeda-beda. Selain itu, perbedaan dialek dan logat bahasa Arab di antara suku-suku Arab juga turut memengaruhi cara mereka membaca Al Quran.

Rasulullah SAW sendiri memberikan ruksah (keringanan) kepada para sahabat untuk membaca Al Quran sesuai dengan kemampuan mereka, asalkan tidak mengubah makna dan kandungan Al Quran. Hal ini dikarenakan pada saat itu, belum ada standarisasi mushaf Al Quran seperti yang kita kenal sekarang.

Setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat menyebar ke berbagai wilayah untuk mengajarkan Al Quran. Mereka mengajarkan Al Quran sesuai dengan apa yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Dari sinilah muncul berbagai macam qira'at yang berbeda-beda.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dilakukan upaya untuk menyatukan umat Islam dalam satu mushaf Al Quran yang standar. Mushaf ini dikenal dengan Mushaf Utsmani . Meskipun demikian, perbedaan qira'at tetap dipertahankan dan diakui, asalkan sesuai dengan Rasm Utsmani dan memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya.

Mengapa Ada Perbedaan Qira'at?

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa sih ada beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) ? Bukankah lebih baik kalau semuanya seragam saja?

Ada beberapa alasan mengapa Allah SWT mengizinkan adanya perbedaan qira'at:

Memudahkan umat Islam: Perbedaan qira'at memudahkan umat Islam dari berbagai latar belakang dan kemampuan untuk membaca dan memahami Al Quran. Menunjukkan keluasan dan keindahan Al Quran: Perbedaan qira'at menunjukkan keluasan dan keindahan bahasa Al Quran yang kaya akan makna dan nuansa. Menjaga keotentikan Al Quran: Meskipun ada perbedaan cara membaca, semua qira'at yang muktabar tetap menjaga keotentikan Al Quran sebagai firman Allah SWT. Ujian bagi umat Islam: Perbedaan qira'at menjadi ujian bagi umat Islam untuk bersikap toleran, saling menghormati, dan tidak saling menyalahkan dalam perbedaan.

Macam-Macam Qira'at yang Muktabar

Macam-Macam Qira'at yang Muktabar

Qira'at Sab'ah (Tujuh Qira'at)

Qira'at Sab'ah adalah tujuh qira'at yang paling terkenal dan banyak digunakan di dunia Islam. Ketujuh qira'at ini dinisbatkan kepada tujuh imam qira'at (ahli qira'at) yang terkenal, yaitu:

1. Imam Nafi' al-Madani: Qira'atnya banyak digunakan di Afrika Utara.

2. Imam Ibnu Katsir al-Makki: Qira'atnya banyak digunakan di Mekkah dan sekitarnya.

3. Imam Abu Amr al-Basri: Qira'atnya banyak digunakan di Basrah dan sekitarnya.

4. Imam Ibnu Amir ash-Syami: Qira'atnya banyak digunakan di Damaskus dan sekitarnya.

5. Imam Asim al-Kufi: Qira'atnya banyak digunakan di Kufah dan sekitarnya, serta di Indonesia dan sebagian besar negara Asia Tenggara.

6. Imam Hamzah al-Kufi: Qira'atnya banyak digunakan di Kufah dan sekitarnya.

7. Imam al-Kisa'i al-Kufi: Qira'atnya banyak digunakan di Kufah dan sekitarnya.

Dari ketujuh imam qira'at tersebut, setiap imam memiliki dua rawi (periwayat) yang menyampaikan qira'atnya. Misalnya, Imam Asim memiliki dua rawi, yaitu Imam Hafsh dan Imam Syu'bah. Di Indonesia, qira'at yang paling banyak digunakan adalah qira'at Imam Asim riwayat Hafsh.

Qira'at Asyrah (Sepuluh Qira'at)

Selain Qira'at Sab'ah, ada juga Qira'at Asyrah, yaitu sepuluh qira'at yang diakui. Sepuluh qira'at ini mencakup tujuh qira'at yang telah disebutkan sebelumnya, ditambah tiga qira'at lainnya, yaitu:

1. Imam Abu Ja'far al-Madani: Qira'atnya banyak digunakan di Madinah dan sekitarnya.

2. Imam Ya'qub al-Basri: Qira'atnya banyak digunakan di Basrah dan sekitarnya.

3. Imam Khalaf al-Baghdadi: Qira'atnya banyak digunakan di Baghdad dan sekitarnya.

Qira'at Syadzdzah (Qira'at yang Tidak Diakui)

Selain qira'at yang muktabar , ada juga qira'at syadzdzah (qira'at yang tidak diakui). Qira'at syadzdzah adalah qira'at yang tidak memenuhi syarat-syarat qira'at yang muktabar , misalnya sanadnya tidak mutawatir, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau tidak sesuai dengan Rasm Utsmani . Qira'at syadzdzah tidak boleh digunakan dalam membaca Al Quran.

Contoh Perbedaan dalam Qira'at

Contoh Perbedaan dalam Qira'at

Mungkin kamu penasaran, seperti apa sih contoh beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) itu? Berikut beberapa contohnya:

Surah Al Fatihah, ayat 4:

Qira'at Imam Asim riwayat Hafsh: Maaliki yaumiddin (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ)

Qira'at Imam Nafi' riwayat Qalun dan Warsh: Maliki yaumiddin (مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ)

Perbedaannya terletak pada huruf mim pertama. Pada qira'at Imam Asim, huruf mim tersebut dibaca panjang (dengan mad ), sedangkan pada qira'at Imam Nafi', huruf mim tersebut dibaca pendek. Meskipun ada perbedaan panjang pendek bacaan, makna dari kedua qira'at tersebut tetap sama, yaitu "Penguasa Hari Pembalasan".

Surah Al Baqarah, ayat 245:

Qira'at Imam Asim riwayat Hafsh: Yabsutu wa yaqbidhu (يَبْسُطُ وَيَقْبِضُ)

Qira'at Imam Hamzah: Yubsithu wa yaqbidhu (يُبْسِطُ وَيَقْبِضُ)

Perbedaannya terletak pada huruf sin pada kata yabsutu . Pada qira'at Imam Asim, huruf sin tersebut dibaca dengan fathah , sedangkan pada qira'at Imam Hamzah, huruf sin tersebut dibaca dengan dhammah .

Surah Al Qariah, ayat 5:

Qira'at Imam Asim riwayat Hafsh: Kal'ihnil manfuush (كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ)

Qira'at Imam Hamzah dan Al-Kisa'i: Kal'is shufil manfuush (كَالْعِصْفِ الْمَنْفُوشِ)

Perbedaan terletak pada kata al'ihni . Pada qira'at Imam Asim, kata tersebut dibaca al'ihni , sedangkan pada qira'at Imam Hamzah dan Al-Kisa'i, kata tersebut dibaca al'is shufi . Perbedaan ini mengubah kata yang digunakan, namun maknanya tetap serupa, yaitu "seperti bulu yang dihambur-hamburkan".

Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya cara membaca Al Quran. Namun, penting untuk diingat bahwa semua qira'at yang muktabar tetap menjaga keotentikan dan makna Al Quran.

Bagaimana Mempelajari Qira'at?

Bagaimana Mempelajari Qira'at?

Mencari Guru yang Sanadnya Jelas

Cara terbaik untuk mempelajari qira'at adalah dengan mencari guru yang memiliki sanad yang jelas sampai kepada Rasulullah SAW. Guru tersebut harus memiliki ijazah (sertifikat) yang menunjukkan bahwa ia telah menguasai qira'at yang akan diajarkannya.

Mempelajari Ilmu Tajwid dengan Mendalam

Ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membaca Al Quran dengan baik dan benar. Dengan mempelajari ilmu tajwid dengan mendalam, kita akan lebih mudah memahami dan mempraktikkan qira'at yang berbeda-beda.

Membaca Kitab-Kitab Qira'at

Ada banyak kitab-kitab qira'at yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Dengan membaca kitab-kitab tersebut, kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang qira'at dan sejarahnya. Beberapa kitab qira'at yang terkenal antara lain:

Kitab An-Nasyr fil Qira'atil Ashr karya Imam Ibnu al-Jazari Kitab At-Taysir fid Dars fi Qira'atis Sab'i karya Imam Abu Amr ad-Dani Kitab Al-Muqni' fi Rasm Mashahifil Amshar karya Imam Abu Amr ad-Dani

Mendengarkan Rekaman Bacaan Al Quran dari Para Qari' yang Mumpuni

Mendengarkan rekaman bacaan Al Quran dari para qari' (pembaca Al Quran) yang mumpuni juga dapat membantu kita dalam mempelajari qira'at. Dengan mendengarkan, kita dapat meniru cara mereka membaca Al Quran dan memperbaiki bacaan kita.

FAQ Seputar Qira'at

FAQ Seputar Qira'at

Bagian 1: Pertanyaan Umum

Q: Apakah beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) itu mengubah makna Al Quran?

A: Secara umum, tidak. Qira'at yang muktabar tidak mengubah makna dasar dari ayat Al Quran. Perbedaan yang ada biasanya hanya pada lafaz (kata-kata) atau tashil (penyederhanaan) bacaan, namun tetap dalam koridor makna yang benar dan sesuai dengan Rasm Utsmani .

Q: Qira'at mana yang paling baik untuk dibaca?

A: Tidak ada qira'at yang lebih baik dari yang lain. Semua qira'at yang muktabar berasal dari Rasulullah SAW dan memiliki keutamaan masing-masing. Di Indonesia, qira'at Imam Asim riwayat Hafsh adalah yang paling umum digunakan karena kemudahannya.

Q: Apakah boleh membaca Al Quran dengan qira'at yang berbeda-beda?

A: Boleh, asalkan qira'at tersebut muktabar dan kita mempelajarinya dari guru yang memiliki sanad yang jelas. Namun, sebaiknya kita fokus pada satu qira'at saja agar bacaan kita lebih lancar dan tidak tercampur-campur.

Bagian 2: Lebih Detail

Q: Apa itu Rasm Utsmani dan mengapa penting dalam qira'at?

A: Rasm Utsmani adalah sistem penulisan Al Quran yang disepakati pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Sistem ini memiliki beberapa perbedaan dengan kaidah penulisan Arab modern. Qira'at yang muktabar harus sesuai dengan Rasm Utsmani karena Rasm Utsmani dianggap sebagai salah satu tolok ukur keotentikan Al Quran.

Q: Apa perbedaan antara qira'at mutawatir dan qira'at ahad ?

A: Qira'at mutawatir adalah qira'at yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang di setiap generasi sehingga mustahil mereka bersepakat untuk berdusta. Sedangkan qira'at ahad adalah qira'at yang diriwayatkan oleh sedikit orang dan tidak mencapai derajat mutawatir . Qira'at yang muktabar harus mutawatir .

Q: Bagaimana cara mengetahui apakah suatu qira'at itu muktabar atau tidak?

A: Cara terbaik adalah dengan bertanya kepada ulama yang ahli dalam bidang qira'at. Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk menilai apakah suatu qira'at memenuhi syarat-syarat qira'at yang muktabar atau tidak.

Bagian 3: Penerapan Sehari-hari

Q: Saya baru belajar membaca Al Quran, apakah perlu langsung mempelajari qira'at yang berbeda-beda?

A: Sebaiknya fokus dulu untuk memperbaiki bacaan Al Quran dengan ilmu tajwid yang benar. Setelah bacaanmu lancar dan sesuai dengan kaidah tajwid, barulah kamu bisa mulai mempelajari qira'at yang berbeda-beda.

Q: Saya sering mendengar bacaan Al Quran dengan qira'at yang berbeda di internet. Apakah boleh saya menirunya?

A: Boleh saja meniru bacaan Al Quran dari internet, tapi pastikan bahwa bacaan tersebut berasal dari qari' yang mumpuni dan qira'at yang digunakannya muktabar . Sebaiknya, tetaplah belajar qira'at dengan guru yang memiliki sanad yang jelas agar kamu tidak salah dalam membaca Al Quran.

Q: Bagaimana cara menumbuhkan kecintaan terhadap Al Quran melalui pemahaman tentang qira'at?

A: Dengan memahami beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) , kita akan lebih menghargai upaya para ulama terdahulu dalam menjaga keotentikan Al Quran. Kita juga akan menyadari betapa kaya dan indahnya bahasa Al Quran. Hal ini akan menumbuhkan kecintaan kita terhadap Al Quran dan mendorong kita untuk lebih sering membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, begitulah kira-kira gambaran tentang dunia qira'at Al Quran. Memang, mempelajari beberapa perbedaan dalam cara membaca Al Quran (qira'at) ini butuh waktu dan kesabaran. Tapi, percayalah, ilmu ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan keislaman kita dan meningkatkan kecintaan kita terhadap Al Quran. Semoga artikel ini bisa memberikan pencerahan dan inspirasi untuk kita semua. Jangan lupa, teruslah belajar dan menggali ilmu Al Quran, karena di dalamnya terdapat petunjuk hidup yang akan membawa kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

{getToc} $title={Table of Contents} $count={Boolean}
Previous Post Next Post